Kamis, 20 Oktober 2011

KISAH UNTUK PARA ISTRI

"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.


Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.
Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.
"Selamat ulang tahun ya De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.
Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya.
Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.

Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...

To my luv, thank u 4 d best gift I ever have
To my luv, thank u 4 d best gift I ever have

Selasa, 17 Mei 2011

Sebuah Renungan...

Apa yang terlintas tentang sosok seorang Ibu dalam benak kita, saat dihadapkan pada keadaan yang seperti ini??






Ibu...
Kami hanya ingin menjadi sebuah impian untukmu
Membopong semua mimpimu dalam pundak kami

Ibu...
Jangan benci kami
jika kami membuatmu menangis.

Rabu, 01 Desember 2010

[KiSaHKeHiDuPaN]

Kisah Seekor Kerang


Malam ini angin berhembus lembut, permukaan laut tenang , ada sedikit cahaya rembulan menerobos masuk ke dasar laut dimana seekor kerang sedang duduk menikmati suasana temaram dan tenang. Gelombang lembut di dasar laut sana membawa pasir-pasir menari mengikuti arus bermain. 
Sebutir pasir masuk kedalam tubuh kerang, membuat sang kerang kaget. Heiii, siapakah kau gerangan, sang kerang bertanya. Aku adalah pasir, gelombang lautlah yang membawa aku ketempatmu. Siapakah kau ? tanya sang pasir. Aku kerang, penghuni dasar lautan ini. 
Demikianlah perkenalan sang kerang dengan butir pasir tersebut. Perkenalan  tersebut  pada awalnya hampa rasanya, mungkin hanya ibarat sebutir  pasir  besarnya.  Sampai  suatu  saat,  sang dewi rembulan melihat persahabatan  yang hampa tersebut. Sang dewi berkata, wahai kerang tidakkah kau dapat lebih mencurahkan rasa persahabatan mu pada butir pasir lembut tersebut,  dia  begitu  kecil  dan  lembut. Mulai sekarang biar aku mengajarkan  bagaimana  rasa  persahabatan  itu agar hidupmu lebih berarti.
Dengan  lembut  sang dewi mengajarkan, tidak sia-sia apa yang diajakan sang dewi  rembulan,  persahabatan  antara sang kerang dengan butir pasir lembut tersebut  berbuah  hasil.  Ada  canda,  ada  tawa,  mereka berbagi masalah. Persahabatan  itu telah merubah butir pasir lembut tersebut menjadi sebutir mutiara  muda  yang  berwarna putih. Warna putih tersebut merupakan warisan sang dewi rembulan kepada mereka. Disuatu siang yang terik , pada saat mereka sedang berbagi rasa di  dasar laut  yang  berselimut  pasir  putih. Tiba-tiba mereka mendengar seruan..
hai sahabat, apa yang sedang kalian lakukan ? 
Sang kerang menjawab "siapakah engkau gerangan ? "Wahai  kerang  tidakkah  engkau  mengenali  aku  ? aku Surya, dewa penguasa matahari   yang   menyinari   seluruh  bumi  di  siang  hari.  Aku melihat persahabatan  mu  dan  mutiara muda itu tulus sekali. Sang kerang menjawab, itu  merupakan  hasil  didikan  dewi  rembulan  yang lembut dan penuh cinta kasih. " Kalau begitu, biar aku lengkapi ajaran sang dewi, biar aku ajarkan kepada kalian tentang hangatnya cinta", jawab sang matahari.
Seiring  terbit  dan  tenggelamnya  mentari,  sang  raja  surya memupuk sang kerang dan mutiara muda dengan perasaan cinta. Jatuh cintalah sang kerang  dengan  mutiara  muda  itu. Mutiara muda itu sekarang menjadi sebutir  mutiara  putih bersih dan berkilau mewarisi sifat sang dewa surya,
dan dibalut dengan cinta sang kerang, indah sekali.
Hidup  sang  kerang  dan  butir mutiara itu indah sekali, cinta mereka tulus,  berbagai  duka,  suka  ,  mereka  lalui  bersama. Tidak ada hari-hari seindah hari-hari yang mereka lalui.
Suatu  hari  seekor  ikan  yang lewat berkata kepada sang butir mutiara  "wahai  mutiara elok, tahun depan Raja dari kerajaan di sebarang sana  akan mengadakan  pemilihan  mutiara  terindah, tidakkah kau tertarik untuk mengikutinya,  rupamu elok, aku yakin raja akan memilihmu" kata sang ikan
"Benarkah  begitu  ?"  tanya  sang  mutiara.  "Aku  akan menyampaikan kabar gembira ini pada sang kerang kekasihku ", sambung sang mutiara.  Mulai saat itu  sang  mutiara  rajin  mempercantik diri, sang kerang juga memberinya semangat  dan  dorongan.  Namun  sang  kerang  tidak menyadari, keinginan besar sang mutiara untuk menang telah merubah sikap sang mutiara.  Sampai suatu  hari  mutiara  tersebut  berkata  kepada sang kerang " wahai kekasihku  kerang,  perlombaan  itu  hampir  tiba saatnya, aku ingin keluar sebagai  pemenang,  aku ingin mencapai cita-citaku, adalah lebih baik mulai saat  ini  kau  menjadi  temanku  saja,  bukan  seorang  kekasih. Aku ingin mencurahkan seluruh perhatianku untuk lomba itu, aku tidak mau terganggu" .
Kata-kata tersebut melukai perasaan sang kerang, airmata jatuh "kenapa kau melakukan  ini  padaku,  aku  menyayangimu  dengan  segenap hatiku, tidakkah engkau tau perasaanku, aku memang tidak mudah mengungkapkan perasaanku, aku kaku laksana kulitku yang keras, tapi mengapa ?.. ?"
"Kerang  yang  baik,  untuk apa engkau menangis, aku akan tetap menjadi sahabatmu, aku tetap akan menjaga hubungan kita" kata sang mutiara
Akhirnya  tiba  waktu  perlombaan  tersebut, sang raja langsung jatuh  hati kepada butir mutiara tadi. "Inilah mutiara terindah yang pernah aku jumpai, aku  memilihnya"  kata  sang  raja. 
Akhirnya mutiara tersebut bersanding menjadi liontin sang raja. Setiap hari sang raja mengaguminya.
Sang  mutiara  telah  melupakan  sang kerang, sang mutiara asik melayani sang raja. Tinggallah sang kerang yang kembali duduk di keheningan di dasar laut  sana,  sepi, hampa  hidup  sang  kerang itu. Setiap hari ia menunggu sang  angin  menyampaikan kabar dari sang mutiara, satu hari, dua hari,seminggu tidak ada kabar dari sang mutiara.
"Biarlah  aku  menitip  pesanku pada sang angin untuk mutiaraku" pikir sangkerang.
"Wahai  angin,  sampaikan  rasa  rinduku  pada mutiaraku yang ada di negeri seberang  sana"  pekik sang kerang. Sang angin menyampaikan pesan tersebut.
Namun  apa  kata  sang mutiara indah " angin, sampaikan kepada sang kerang,
jangan  ganggu  aku,aku  sibuk sekali melayani sang raja,dan sampaikan juga padanya untuk mencari mutiara lain saja".
Kabar  ini  membuat sang kerang sedih, namun dalam kesedihannya rasa sayang sang  kerang  terhadap  sang  mutiara  mengalahkan rasa kecewanya, ia tetap berdoa pada Ilahi agar sang mutiara berbahagia.

Nah  sahabat  dalam  kehidupan  nyata ini banyak persahabatan yang berakhir dengan sebuah hubungan cinta, jika kedua belah pihak punya komitmen,dan mau menanggung  duka  dan  suka bersama-sama, hubungan itu bisa berakhir dengan sebuah  jenjang  pernikahan  yang  suci.  
Namun  bisa  juga  percintaan itu berakhir dengan sebuah permusuhan yang mengakibatkan kedua belah pihak atau salah satunya terluka, kalaupun cinta itu dapat berakhir lagi dengan sebuah persahabatan, percayalah rasa persahabatan itu akan lain, akan hambar. 
Luka dari  cinta  itu  Cuma  bisa  disembuhkan  oleh  waktu. Apakah anda memilih menjadi kerang tersebut atau mutiara indah tersebut ? Terserah anda.

Kirimkan  cerita  ini  pada orang-orang yang kamu anggap sahabat, kekasih ,
atau  orang-orang  yang  kamu  anggap berarti dalam hidupmu , hanya sebagai
sebuah bahan renungan.

Senin, 29 November 2010

FILOSOFI ANGSA




 
Sebuah renungan bagi kita semua:

     Kalau anda tinggal di negara empat musim, maka pada musim gugur akan
     terlihat rombongan angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari
     musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk
     huruf "V". Kita akan melihat beberapa fakta ilmiah tentang mengapa
     rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi "V".

     Fakta:


     Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan "daya
     dukung" bagi burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi
     karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah-payah
     untuk menembus 'dinding udara' di depannya. Dengan terbang dalam
     formasi "V", seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih
     jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian.

     Pelajaran:

     Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling
     membagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan
     lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya
     dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain.

     Fakta:

     Kalau seekor angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan
     merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan
     kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung
     yang diberikan burung di depannya.

     Pelajaran:

     Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan
     tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan di depan. Kita akan
     mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih
     sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada melakukannya
     bersama-sama.

     Fakta:

     Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang
     memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan
     posisinya.

     Pelajaran:

     Adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh
     tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama. Seperti halnya
     angsa,manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal
     kemampuan, kapasitas dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta atau
     sumber daya lainnya.

     Fakta:
     Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh
     rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang
     terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.

     Pelajaran:

     Kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam
     kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih
     besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau
     nilai-nilai utama dan saling menguatkan) adalah kualitas suara yang
     kita cari. Kita harus >memastikan bahwa suara kita akan  menguatkan
     dan bukan melemahkan.

     Fakta:

     Ketika seekor angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua
     angsa lain akan ikut keluar dari formasi bersama angsa tersebut dan
     mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka
     tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang
     lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri
     atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.

     Pelajaran:

     Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan
     tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka,
     sama seperti ketika segalanya baik.